A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/bppkp/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/bppkp/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/bppkp/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/bppkp/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/bppkp/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/bppkp/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/bppkp/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

MEMINIMALKAN RESIKO USAHA PADA PETANI GUREM

PARJO, SP PENYULUH PERTANIAN BPP PAKIS Berita Terkini


Petani digolongkan atas petani besar, petani kecil, petani gurem dan buruh tani, penggolongan petani ini didasarkan pada kepemilikan luas lahan yang dimiliki atau dikuasai. Menurut  Sastraadmadja ( 2010 ) petani besar  adalah petani yang memiliki lahan lebih dari 1 hektar. Petani kecil petani dengan luas lahan   0,51- 1 hektar, petani gurem 0,1 – 0,5 ha,  sedang buruh tani adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah pada sektor pertanian. Jumlah petani gurem  Mei 2013 sejumlah 14,25 juta rumah tangga atau 55,33 % dari 26 juta rumah tangga petani pengguna lahan. Penurunan jumlah petani gurem sebesar 4,77 juta rumah tangga atau sekitar 25,07% dibanding 10 tahun yang lalu ( Sensus pertanian 2003 ). Menurut Badan Pusat Statistik ( BPS ) petani gurem didefinisikan sebagai rumah tangga pertanian yang mengusahakan lahan pertanian kurang dari 0,5 ha. Kebanyakan petani golongan ini rata rata hanya memiliki lahan 0,2 ha. Petani gurem sebagai kiasan gurem yang artinya serangga yang sangat kecil hampir tidak kelihatan dan jarang diperhitungkan. Petani gurem merupakan petani super kecil akan tetapi jumlahnya sangat banyak dan mendominasi petani pada umumnya di Indonesia. Populasi jumlah petani gurem seyogyanya harus diturunkan sebagai representasi dari keberhasilan pembangunan pertanian terutama berkaitan dengan pengentasan dari kemiskinan. Petani gurem banyak keterbatasan selain pada sumber daya manusianya, juga  keterbatasan pada modal usaha, keterbatasan pada akses informasi dan juga keterbatasan akan kepercayaan terutama pada lembaga pemberi kredit usaha.  

 

Polycultur Sebagai Suatu Alternatif.

Petani gurem belum dapat diandalkan secara penuh lantaran banyak keterbatasan dan faktor resiko usahatani. Sektor pertanian utamanya pada petani gurem rentan terhadap perubahan baik peruahan cekaman iklim, hama penyakit, dan fluktuasi harga pasar. Sementara penerapan harga pokok petani ( HPP ) diseluruh komoditas pertanian pangan belum diterapkan.  Keterbatasan luas lahan usahatani  yang sempit tidak dapat dilakukan dengan  sistem pertanian secara ekstensifikasi melainkan harus dilaksanakan secara intensif. Produksi merupakan bagian dari faktor yang mempengaruhi pendapatan petani untuk itu  peningkatan mutu intensifikasi ( PMI ) untuk mendongkrak produksi merupakan jalan keluar. Sementara untuk mengurangi faktor resiko sekaligus peningkatan pendapatan dengan cara polycultur.  Beberapa cara polycultur yang dapat diterapkan  diantaranya: 1. Sistem tanam tumpangsari cara ini dapat memaksimalkan penggunaan lahan dengan menanam lebih dari 1 jenis tanaman secara bersamaan atau hampir bersamaan. Dalam waktu dan lahan yang sama dapat dipanen beberapa jenis komoditas. 2. Sistem bercocok tanam tumpang gilir yakni merupakan salah satu cara bercocok tanam dengan polycultur dimana dua jenis tanaman ditanam secara bergilir. Pada sistem ini jenis tanaman kedua ditanam beberapa waktu sebelum  tanaman utama dipanen. Sistem ini dapat dihemat biaya pengolahan tanah karena pengolahan tanah dilakukan pada tanaman utama. 3. Sistem tanam tumpang sela adalah campuran tanaman antara tanaman tahunan dengan tanaman semusim. Tanaman kayu kayuan dengan tanaman semusim misalnya untuk menunggu hasil tanaman albasia, jati, jeruk, karet, kelapa dapat ditanami tanaman palawija atau sayuran. Secara keseluruhan ada beberapa keuntungan sistem tanaman polycultur diantaranya : pada lahan yang sama ( sempit ) dapat dipanen beberapa komoditas, menghemat biaya dari segi pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama penyakit dan gulma. Mendapatkan keuntungan dari setiap komoditas yang ditanam, efisien terhadap serapan unsur hara dan  tumpangsari dengan  tanaman tertentu dapat menekan gangguan hama misalnya tumpangsari tomat kubis dapat menekan gangguan hama ulat plutella Xylastella  hal ini karena daun tomat mengeluarkan zat yang tidak disukai oleh imago dari ulat plutella.

 Integrasi Pertanian dengan  Ternak

Ternak sapi, kambing, domba dan kelinci merupakan ternak pemakan rumput (herbivora) dimana pakannya hampir tidak beli. Seresah hasil panen dan bahan ikutan dapat digunakan sebagai pakan ternak. Disisi lain ternak juga mengasilkan kotoran padat maupun  cair yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah. Bagi petani,  ternak dapat dijadikan sebagai tabungan atau sumber pendapatan bagi  keluarga.  Dengan pemeliharaan ternak akan efisien dalam pemanfaatan seresah hasil panen dan  rerumputan yang tumbuh dipetakan sebagai gulma. Pertanian terpadu dengan ternak juga dapat mengoptimalkan tenaga kerja keluarga sekaligus mengurangi pengangguran tersamar. Swasembada daging yang diwacanakan pemerintah dimana sumber produksi ternak  banyak bertumpu pada peternakan rakyat dalam hal ini petani kecil dan petani gurem ikut berkontribusi pada pencapaiannya.

 Pengolahan Hasil Ditingkat Keluarga Tani.

Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan  petani  dapat ditempuh  dengan mencari nilai tambah melalui pengolahan hasil. Pengolahan hasil secara sederhana  ditingkat keluarga tani kebanyakan  dihasilkan produk olahan setengah jadi atau dikenal dengan bahan baku primer. Bahan olahan setengah jadi didefinisikan sebagai bahan olahan yang sudah melalui proses pengawetan, baik secara fisik, kimia maupun mikrobiologi. Contoh olahan pangan menjadi produk primer diantaranya ketela menjadi tepung tapioka, kopi menjadi kopi lepas kulit. Sementara olahan non pangan seperti  daun tembakau segar menjadi tembakau rajangan kering.  Beberapa keuntungan dari produk  pengolahan hasil diantaranya nilai ekonomi meningkat dibanding produk segar, tahan simpan, mudah disimpan dan ringkas, mudah untuk dikemas, mudah diolah lagi menjadi berbagai produk turunan, produk olahan harganya relatif lebih stabil, bagi petani bahan bakunya mudah didapatkan. Dengan tidak menjual produk segar tetapi melalui pengolahan hasil akan didapatkan tambahan pendapatan dan kesejahteraan petani. Pada dasarnya keuntungan tertinggi pada sektor pertanian banyak terletak pada jalur tataniaga, pengolahan hasil dan pemasaran