A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/bppkp/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/bppkp/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/bppkp/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/bppkp/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/bppkp/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/bppkp/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/bppkp/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI SEKTOR PERTANIAN

WIDI DISTANPANGAN Artikel

Salah satu tujuan yang hendak dicapai dalam SDGs (Suistanable Development Goals) yang diluncurkan PBB pada Bulan September 2015 adalah “No Hunger” atau menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi baik serta meningkatkan pertanian berkelanjutan. Berdasarkan lembar fakta SDGs Indonesia pada periode 2007-2013, pravelensi kekurangan gizi meningkat dari 18,4% menjadi 19,6%. Dengan melihat penetapan tujuan ini, maka mudah bagi kita menarik kesimpulan bahwa pemasalahan ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan ini bukan hanya permasalahan negara kita, namun juga hampir seluruh negara di dunia. Semakin berkurangnya lahan pertanian menimbukan kehawatiran yang besar bagi ketersediaan pangan di masa yang akan datang.

Bertolak belakang dengan kenyataan bahwa kita adalah bangsa agraris yang mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian,kini petani justru merupakan kelompok masyarakat yang berada pada sektor dengan pendapatan terendah, sehingga sektor pertanian  dianggap sebagai sektor yang tidak menjanjikan. Hal ini menjadi suatu alasan yang kuat bagi para petani untuk meninggalkan sektor pertanian dan beralih pada sektor lain dan mengalihfungsikan atau menjual lahan yang mereka miliki untuk dialihfungsikan  ke sektor non pertanian yang mereka anggap lebih menjanjikan. Laju pembangunan merupakan alasan yang seringkali menyebabkan masyarakat untuk mengalihfungsikan lahan pertanian.

Dalam sektor pariwisata dan industri, permasalahan alih fungsi lahan menjadi dilema yang cukup sulit untuk diurai. Di satu sisi pemerintah daerah memiliki kepentingan untuk mendukung sektor pariwisata dan industri yang dikembangkan oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup, dengan memberikan kemudahan perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi non pertanian untuk dibangun berbagai fasilitas  dan jasa pendukung pariwisata dan industri. Namun di sisi lain pemerintah mengemban tugas untuk mempertahankan sektor pertanian dengan melakukan pengendalian alih fungsi lahan.

Bergesernya nilai-nilai dalam masyarakat, yang menyebabkan generasi muda enggan terjun ke sektor pertanian. Mereka beranggapan bahwa profesi petani bukanlah profesi yang memiliki kebanggaan di mata masyarakat. Pada akhirnya masyarakat mengalami transformasi ekonomi, yaitu banyak generasi muda yang beralih bekerja pada sektor lain. Fenomena ini menjadi suatu kekhawatiran tersendiri bagi masa depan sektor pertanian, mengingat kebutuhan akan sumber daya pertanian yang semakin besar untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Perkiraan ledakan jumlah penduduk produktif atau bonus demografi pada tahun 2025-2030 menuntut pemerintah untuk mempersiapkan diri dengan membekali generasi saat ini dengan kemampuan untuk mengembangkan diri dalam berbagai peluang yang ada, agar pada masa bonus demografi tersebut tidak tercipta banyak pengangguran usia produktif. Sektor pertanian merupakan salah satu peluang yang semestinya mulai dikelola dengan baik saat ini, agar di masa-masa yang akan datang banyak generasi muda yang tertarik untuk mengembangkan potensi di sektor ini..

Pembangunan sejatinya bukan hanya tentang jalan yang mulus, gedung tinggi, maupun industri yang kian pesat, seolah uang, kapital dan teknologi merupakan elemen dasar. Pembangunan semestinya juga adalah dengan terbentuknya pemahaman yang benar dalam masyarakat tentang bagaimana mengelola sumber daya secara tepat agar tidak semata-mata dapat memenuhi kebutuhan perut kita sendiri, tapi juga mempertahankan manfaat ekonomis dan nilai sosial untuk jangka panjang, jauh melampaui umur kita. Masa depan sangat bergantung pada kita, keberlanjutan sumber daya untuk generasi mendatang adalah tanggung jawab kita.

Pada tahun 2018 ini Dinas Pertanian dan Pangan melaksanakan kegiatan pemetaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang bertujuan untuk melindungi kawasan lahan pertanian produktif agar tidak dialihfungsikan menjadi non pertanian. Hal ini tentu tidak lepas dari upaya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan setidaknya membahas berbagai hal yang berkaitan dengan : pertama, upaya memenuhi kebutuhan manusia yang ditopang dengan kemampuan daya dukung ekosistem; kedua, upaya peningkatan mutu kehidupan manusia dengan cara melindungi dan memberlanjutkan; ketiga, upaya meningkatkan sumberdaya manusia dan alam yang akan dibutuhkan pada masa mendatang; keempat, upaya mempertemukan kebutuhan-kebutuhan manusia secara antar generasi (Baiquni, 2004: Membangun Pusat-pusat di Pinggiran). Terdapat cara pandang yang keliru dalam masyakat perihal upaya perbaikan ekonomi, seolah dengan menjual lahan merupakan solusi bagi permasalahan mereka, namun tanpa mereka sadari bahwa solusi yang mereka peroleh bersifat jangka pendek. Berapapun uang yang mereka peroleh atas penjualan tanah tidak akan sebanding dengan nilai manfaat tanah tersebut jika mereka mengolahnya dengan baik dan benar . Uang akan habis oleh satu generasi, tapi nilai manfaat atas tanah akan dapat dirasakan oleh para pewaris mereka.