A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 51
Function: _userAgent

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 14
Function: browser_user

File: /home/bppkp/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/bppkp/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 146

Backtrace:

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 146
Function: _error_handler

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 168
Function: _userAgent

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 15
Function: os_user

File: /home/bppkp/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/bppkp/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/bppkp/public_html/system/core/Exceptions.php:271)

Filename: models/Counter_model.php

Line Number: 23

Backtrace:

File: /home/bppkp/public_html/application/models/Counter_model.php
Line: 23
Function: setcookie

File: /home/bppkp/public_html/application/controllers/Home.php
Line: 19
Function: simpanPengunjung

File: /home/bppkp/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Kabupaten Magelang

SERANGAN SI LABU MEMBUAT PETANI SALAK GUNDAH

DIAN RAKHMAWATI HARSONO, SP POPT KAB. MAGELANG Artikel


Si LABU atau si lalat buah yang berjenis Bactrocera papayae dan Bactrocera carambolae menyerang buah salak semenjak akhir September 2017. Petani salak di daerah srumbung mengemukakan bahwa di tahun-tahun sebelumnya belum ada serangan hama lalat buah. Namun di tahun 2017-2018 ini petani salak dikeluhkan dengan serangan hama lalat buah pada produk salaknya. Serangan lalat buah menyebabkan daging buah berwarna coklat, jika dibuka. Lama kelamaan buah menjadi busuk, sehingga menurunkan produksi buah yang baik. Hal ini juga akan menghambat proses ekspor salak karena secara fisik gejala serangan lalat buah tidak tampak dari luar. Hama lalat buah merupakan OPT Karantina bagi negara pengimpor seperti Australia dan New Zealand. Pembeli atau eksportir awalnya tidak akan mengetahui, namun dari petugas karantina tentu akan jeli dan mengeluarkan pest list, sehingga tidak akan lolos ekspor.

Serangan lalat buah ini dipicu oleh penanaman cabe di sekitar kebun salak. Diduga lalat buah yang menyerang cabe kemudian berpindah ke salak, ketika tanaman cabe sudah usai. Petani salak yang menanam cabe dikarenakan untuk mengintensifikasi lahan sehingga pendapatan juga naik. Hal ini karena harga salak yang turun drastis. Harga yang murah mengakibatkan salak tidak dipetik muda, dibiarkan di kebun sampai tua bahkan tidak dipanen. Perilaku ini diperkirakan juga akan mengundang lalat buah untuk hinggap dan meletakkan telur.


Akibat meluasnya serangan lalat buah, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah, melalui LPHP (Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit) Kedu melakukan usaha pengendalian dengan melakukan kegiatan pengendalian salak secara organik. Kegiatan dilakukan di desa  Sudimoro Kecamatan Srumbung melakukan uji perangkap lalat buah dengan menggunakan antilat yang dilapisi cairan methyl eugenol dan botol air mineral yang di beri tetesan methyl eugenol. Kedua alat tersebut dipasang di sekitar pertanaman salak, dengan cara digantung di pohon salak. Selama 3 hari sekali diamati jumlah lalat yang terperangkap dan diperiksa apakah kapas di botol air mineral masih basah.

Pengamatan dilakukan selama dua bulan dengan menghitung jumlah tangkapan lalat buah. Tujuan dari observasi ini adalah apakah terjadi penurunan populasi lalat buah dengan adanya pemasangan perangkap. Selain itu untuk mengendalikan jumlah populasi lalat buah di lapangan yang ternyata jumlahnya sangat banyak. Pengamatan baru dilakukan empat kali atau dalam waktu satu bulan menghasilkan pengamatan sebagai berikut:

1. Pengamatan pertama : 48 ekor

2. Pengamatan kedua : 163 ekor

3. Pengamatan ketiga : 275 ekor

4. Pengamatan keempat : 268 ekor


Dilihat dari hasil pengamatan, belum adanya penurunan populasi lalat buah. Hal ini disebabkan karena para petani salak di desa Sudimoro dan sekitarnya belum memasang alat yang serupa sehingga terjadi kelimpahan populasi serangga/ lalat buah dari area yang tidak memasang perangkap.

Pengendalian lalat buah akan efektif jika dilakukan secara serentak, area luas dan terus menerus (Area Wide Integrated Pest Management). Dengan menerapkan konsep pengelolaan lalat buah skala luas. Indikator rendahnya populasi lalat buah dapat dinilai berdasarkan angka Fruit Fly per Trap per Day (lalat buah per perangkap Per Hari) sehingga dicapai Area Low Pest Prevalent (Daerah dengan prevalensi hama yang rendah) yaitu harus mampu mencapai FTD <1 %.

Untuk suksesnya menerapkan Area Wide Integrated Pest Management sehingga dicapai ALPP :

1. Komitmen tinggi dan konsisten bagi para pelaku usahatani salak mulai dari petani, pengepul dalam melakukan pengendalian lalat buah

2. Membangun kesadaran masyarakat terhadap sanitasi kebun, rumah-rumah pengumpul dari buah-buah salak busuk yang merupakan sumber infeksi dan penyebaran lalat buah

3. Sinergi berbagai instansi/pihak terkait.

4. Dukungan pemerintah daerah, pusat dan eksportir dalam memotivasi dan menggerakkan petani untuk berperan dalam kegiatan gerakan pengendalian lalat buah.