Pengamanan Produksi Padi dengan Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)


Created At : 2022-01-06 00:00:00 Oleh : Dian Rakhmawati H Informasi Publik Dibaca : 548

Akibat pengaruh perubahan iklim dari efek La nina ataupun El nino, menyebabkan meningkatnya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tertentu terutama pada komoditas padi. Tanaman padi sebagai makanan pokok dan penopang perekonomian petani Indonesia menjadi komoditas strategis yang sangat diperhatikan oleh pemerintah baik kondisi produksinya maupun stok beras di suatu daerah. Oleh karena itu jika produksi menurun akibat serangan OPT, maka jajaran pemerintah yang menangani perlindungan tanaman berperan besar untuk mengamankan produksi.
Salah satu upaya untuk mengamankan produksi padi yaitu dengan program dari Direktorat Perlindungan Tanaman yaitu melakukan Gerakan Pengendalian. Adalah gerakan massal yang diikuti oleh anggota kelompok tani, petugas lapangan, aparat desa bahkan dari babinkamtibmas setempat semua bersama-sama melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan serangan OPT. Gerakan ini dikomando dari petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan setempat maupun dari lingkup provinsi.

Gerakan Pengendalian tersebut biasanya telah difasilitasi oleh pemerintah dengan berbagai bantuan.Diantaranya bahan pengendali baik kimia sintetik maupun alami, masker, sarung tangan konsumsi maupun bantuan transport. Masing-masing bantuan sesuai sumber dananya. Gerakan melibatkan petani sebagai pelaku usaha pertanian didampingi oleh petugas Pengendali OPT, yang sebelumnya telah melakukan pemantauan/survei sehingga diterbitkan rekomendasi pengendalian.
Berdasarkan rekomendasi pengendalian tersebut kemudian stake holder terkait seperti Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah atau Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, segera mengeluarkan bantuan bahan pengendali yang telah dianjurkan, beserta perlengkapan lainnya. Jadwal Gerakan Pengendalian segera disusun, dan pihak yang terlibat terutama anggota kelompok tani, dikoordinasikan untuk melakukan persiapan.

Pelaksanaan Gerakan Pengendalian bisa dilakukan pada hari apa saja, bahkan hari libur, namun waktunya harus pagi sebelum matahari bergerak naik. Dimulai sekitar pukul 06.30 – 07.00 dan diakhiri pukul 09.00. Pelaksanaan Gerakan Pengendalian OPT dilakukan pada pagi hari karena untuk menghindari paparan sinar matahari yang semakin terik jika hari semakin siang. Sinar matahari yang terik akan menguapkan formulasi pestisida baik yang alami maupun kimia sintetik. Untuk menghindari tercuci air hujan, maka dapat diulang penyemprotannya atau ditambahkan bahan perekat Contoh Gerakan Pengendalian OPT yang sering dilakukan di wilayah kecamatan Mungkid adalah Gerakan Pengendalian Wereng Batang Coklat (WBC). Hama ini sering menyerang padi mulai di persemaian sampai umur 60-70 hst. Daerah kecamatan Mungkid adalah daerah endemis WBC yang sering menyerang tiap musim, karena faktor ketidak serempakan petani dalam menanam padi sehingga sumber makanan bagi WBC ada terus. Gerakan Pengendalian digunakan untuk menghentikan populasi WBC berkembang sehingga dapat menekan intensitas kerusakan. Dilakukan secara bersama-sama di hamparan yang luas minimal 5 ha supaya dapat melindungi tanaman padi yang lebih muda atau masih usia vegetatif (pertumbuhan) dari serangan OPT terutama WBC.

Jika hanya dilakukan sendiri-sendiri di lahan sawah miliknya, maka pengendalian tidak akan maksimal, karena kemungkinan populasi OPT masih ada dengan cara berpindah tempat di lahan padi yang masih muda dan sehat. Oleh karena itu tujuan Gerakan Pengendalian OPT adalah gerakan penyemprotan/aplikasi pengendalian secara massive (hamparan luas) untuk mencapai target tidak meluasnya serangan OPT.
Di lingkup Kabupaten Magelang, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang menyediakan buffer stock pestisida dari anggaran APBD digunakan untuk membantu petani yang membutuhkan bahan pengendali. Dengan menunjukkan hasil rekomendasi dari POPT, kemudian surat pengantar dari aparat desa dan Petugas Penyuluh Lapang (PPL), sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan jumlah pestisida yang akan diperbantukan. Biasanya POPT akan mencantumkan komoditas tanaman, lokasi terserang, luas serangan, intensitas serangan, luas terancam, jenis OPT, populasi OPT dan rekomendasi mengenai anjuran hal-hal yang harus dilakukan.

Dengan adanya persediaan pestisida baik di Dinas Pertanian Kabupaten maupun Dinas Pertanian Provinsi, diharapkan dapat membantu petani atau kelompok tani yang tidak mampu mengendalikan sendiri OPT yang menyerang, sehingga pengamanan produksi tercapai. Namun catatan penting  yang perlu diketahui sesuai Undang-Undang Sistem Budidaya Tanaman Tahun 1992 bahwa tanggung jawab pengendalian adalah di tangan petani. Jika petani tidak sanggup mengendalikan sendiri, maka dapat mengajukan bantuan.


Dokumentasi Gerdal di Rambeanak Mungkid Magelang

 

 

 

Dokumentasi Gerdal di Pabelan Mungkid

  

Dian Rakhmawati Harsono, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT)

 

 

 

 

GALERI FOTO

Agenda

Tidak ada acara