Pelatihan Budidaya Cabe Sehat di Tingkat Petani


Created At : 2022-12-21 00:00:00 Oleh : Dian R.H, POPT Magelang Informasi Publik Dibaca : 90


Cabe merupakan komoditas pertanian yang strategis dan populer di kalangan petani dan masyarakat pada umumnya. Anekdot di tingkat petani adalah jika seorang petani berhasil menanam cabe, maka petani tersebut dianggap bisa menanam komoditas lain dengan baik pula. Tolok ukur keberhasilan menanam cabe tentu saja jika didukung dengan harga cabe per kilo yang tinggi. Panen bagus namun harga rendah, membuat petani cabe juga meradang.

Namun dalam artikel ini, kita tidak membahas harga cabe yang fluktuatif. Budidaya cabe yang sehat, diharapkan mampu meningkatkan produksi cabe dan kualitas cabe pun bagus. Jika produksi bagus dan tinggi, berapapun harga cabe saat panen, bukan menjadi penghalang utama petani.

Dari segi budidaya, hama penyakit yang menyerang cabe menjadi perhatian khusus bagi petani karena menentukan produksi cabe nanti. Saat musim hujan, ketakutan petani cabe adalah penyakit antraknosa /pathek yang disebabkan oleh jamur Colletothricum capsici /Gloesporium. Curah hujan tinggi dengan kelembapan tinggi memicu perkembangan penyakit antraknosa yang menyerang buah cabe. Kondisi parah serangan penyakit antraknosa menjadi musuh utama petani cabe.

Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang melalui APBdes yang dikucurkan di setiap desa, menginspirasi para petugas penyuluh dan pemerintah desa untuk mengalokasikan dana desa dengan menyelenggarakan pelatihan cabe sehat bagi petani. Di desa Bumirejo, Paremono dan Ngrajek, petani dan petugas mengikuti pelatihan cabe sehat yang didanai dana desa.

Penyelenggaraan budidaya cabe sehat dilaksanakan saat musim hujan tiba, dengan maksud dapat melihat hasilnya secara efektif. Tim penyelenggara menyiapkan demplot cabe seluas 1000 m² untuk ditanami cabe sesuai dengan prosedur PHT (Pengelolaan Hama Terpadu). Mulai dari pengolahan tanah sampai panen petani dilibatkan untuk ikut andil. Dengan metode seperti sekolah lapang, petani belajar membudidayakan cabe mulai dari benih, pengolahan tanah, menanam tanaman barrier, pemupukan, pengendalian hama penyakit, panen dan pasca panen.

Mulai dari pemilihan benih, menggunakan benih kemasan yang telah tersertifikasi. Benih disemai sendiri dengan membuat media semai benih menggunakan kompos, mikorhiza, dan trichoderma. Benih yang telah tersertifikasi selanjutnya direndam menggunakan air hangat selama setengah jam, kemudian direndam menggunakan Paeni bacillus selama setengah jam. Perendaman benih dengan air hangat akan membantu memecah masa dormansi benih sehingga benih mudah tumbuh.  Perendaman dengan Paeni bacillus akan melindungi benih sejak dini dari serangan penyakit terutama penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.

 

Saat pengolahan tanah, tanah yang digunakan dicampur dengan pupuk kandang dan trichoderma. Trichoderma diaplikasikan dengan tujuan untuk mejaga tanah dalam kondisi sehat. Trichoderma mampu menghambat pertumbuhan jamur pathogen yang biasanya mulai menyerang perakaran. Trichoderma juga dapat berfungsi seperti jamur mikhoriza yang mampu berperan aktif membantu memecah nutrisi di tanah sehingga mampu diserap tanaman.

Setelah benih tumbuh dan kuat, sebaiknya benih diadaptasikan di lahan sebelum dipindahkan atau ditanam. Adaptasi dilakukan dengan cara meletakkan bibit di lokasi lahan selama ±1 minggu. Bibit siap di tanam di lubang mulsa hitam perak yang sudah dilubangi. Selanjutnya dilakukan perawatan tanaman seperti biasa, pemupukan tetap menggunakan pupuk kimia sesuai anjuran.

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan membuat pestisisida nabati. Penyakit dari golongan jamur yang selalu ada di pertanaman yaitu antraknosa (baca; pathek oleh petani). Pestisida nabati yang dibuat adalah dari bahan empon-empon (jahe, kunyit,lengkuas) dan komposisi kedua dari campuran belerang, kapur padalarang dan sabun colek yang direbus dengan air. Komposisi bahan dapat dilihat pada lampiran artikel ini.

Untuk mengendalikan serangan  hama juga menggunakan pestisida nabati dari bahan alami, yaitu buah bintaro yang dipercaya mengandung senyawa yang dapat meracuni serangga atau pun hewan mamalia, tembakau yang sudah dirajang, bawang putih dan deterjen secukupnya. Bahan-bahan tersebut direbus menggunakan air abu dapur yang telah diendapkan 2 hari, kemudian disaring selanjutnya diencerkan. Dosisnya 1 gelas ukuran 200 ml per tanki jika serangan sedang-berat, setengah gelas per tanki jika serangan ringan.

Demplot seluas 500 m2 yang digunakan oleh gabungan kelompok tani desa Bumirejo, mulai dari tanam sampai panen telah menerapkan budidaya cabe sehat seperti tertulis di atas. Hasil dari pelatihan budidaya cabe sehat tersebut dapat di lihat dari analisis usaha tani yang telah disusun berdasarkan biaya operasional dan output hasil bertanam cabe perolehan penjualan cabe rawit.

Hal ini membuktikan bahwa tekad kuat untuk berbudidaya cabe sehat dengan memperhatikan hasil pengamatan OPT yang masih di bawah ambang kendali dengan menerapkan pengendalian pre-emtif, mampu menekan biaya produksi. Karena pestisida kimia yang biasanya dikonsumsi dalam jumlah banyak menaikkan biaya produksi. Dengan menggunakan bahan alami, dapat mengurangi biaya produksi sehingga Break Event Point dan laba meningkat.(Dian R.H, POPT Magelang)



GALERI FOTO

Agenda

Tidak ada acara