Kembali

PENANAMAN BAWANG BOMBAI DI POKTAN SIDO MAJU KEC. PAKIS KAB. MAGELANG

Bawang bombai dikenal dengan nama latin Alliumcepa Linnaeus dan merupakan jenis bawang yang mudah dikenali karena bentuknya yang besar dengan daging tebal. Bawang bombai merupakan salah satu Varietas long day. Varietas long day adalah varietas tanaman yang mekar saat siang hari panjang, terutama pada musim panas. Varietas ini membutuhkan panjang penyinaran yang lebih lama untuk membentuk umbinya. Varietas short day hanya membutuhkan panjang penyinaran kurang dari 12 jam sementara varietas bombai yang selama ini berkembang adalah jenis long day yang induksi pembentukan umbinya membutuhkan panjang penyinaran 14-16 jam. Ini yang menyebabkan selama ini bawang bombai tidak bisa dibudidayakan di Indonesia

Menurut Tunov, Champion Cabai Nasional, “Kebutuhan bawang bombai dalam negeri yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Bawang bombai yang dibutuhkan masyarakat Indonesia sebagian besar diimpor. Nilai impor bawang bombai Indonesia sekitar 120-130 ribu ton per tahun atau mencapai lebih dari Rp 1 triliun per tahun. Harga bawang bombay 1 kg di pasar bervariasi tergantung jenis dan ukurannya, rata-rata berkisar harga Rp 30.000,-“. Juga ditambahkan Tunov, “Konsumsi bawang bombai tidak hanya hotel, restoran ataupun catering (HOREKA) namun juga sudah merambah ke rumah tangga”. Prospek inilah yang menantang teman-teman Poktan Sido Maju Desa Pakis Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang untuk mencoba mengembangkan komoditas Bawang Bombai. Jika bawang bombai bisa dikembangkan di dalam negeri, ini menjadi peluang yang menarik dan prospektif, pengembangan ini diharapkan bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi petani dan memberikan keragaman tanaman yang bisa memberikan keuntungan bagi petani, ujar Sudarno, Champion Cabai Kab. Magelang.


Gayung pun bersambut, pada pertengahan bulan September 2024, Poktan Sido Maju Desa Pakis Kecamatan Pakis mendapatkan bantuan benih bawang bombai untuk penanaman 1 (satu) hektar. Setelah mendapatkan benih bawang bombai berupa biji, dilakukan penyemaian kurang lebih sekitar 40-50 hari. Selanjutnya pada tanggal 17 Oktober 2024 dilakukan penanaman/pindah tanam ke lahan atau tanam bersama dengan Champion, BPP Kec. Pakis dan Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Magelang. Sementara itu, menurut salah satu petani yang mencoba menanam bawang bombai, Wahyu Pramudianto atau akrab disapa Aan,“Selama berproses berbudidaya memang banyak hal yang baru ditemui teman-teman petani namun karena berpengalaman dalam budidaya bawang merah karet, Diakuinya tidak mudah mengembangkan produk baru seperti bawang bombai khususnya dari dari aspek budidaya. Karena belum tahu kira-kira waktu panennya dan hama penyakit yang berpotensi menyerang bawang bombai. Selain itu ada ketidaktepatan menentukan waktu tanam menyesuaikan dengan turunnya fasilitasi/bantuan dari Kementerian Pertanian”. 

 

Setelah menunggu sekitar 85-90 hari setelah pindah tanam, pada tanggal 14 Januari 2025 dilakukan pemanenan bawang bombai. Disampaikan oleh Hafid Adi Nugroho, selaku Koordinator BPP, “Pemanenan dimulai dengan melaksanakan ubinan besama  dengan BPP Kecamatan Pakis, dengan hasil ubinan 2,5 m x 2,5 m sebesar 17,48 kg atau disetarakan 16,8 atau dibulatkan 17 ton per ha”. Dalam 1 kg bawang bombai terdapat 10-12 biji. Untuk pemeliharaan atau perawatan relatif mudah, serangan hama adalah seputar ulat. Yang perlu diperhatikan lagi adalah pH tanah. Kendala yang lain proses pengeringan produk bawang bombai panenan (basah), namun untungnya ada bantuan sarana pascapanen dari PPHH Kementan.

 


“Teman-teman petani Poktan Sido Maju pun tidak berkesusahan untuk menjual bawang Bombai yang diproduksi karena sudah ada pedagang Pasar Rejowinangun yang membeli dengan harga Rp 25 ribu per kilogram,” tutur Edy Tursilo, petani setempat.

“Walaupun hanya dikembangkan di lahan terbatas, keberhasilan panen bawang bombai tersebut setidaknya memberikan secercah harapan untuk pengembangan di dalam negeri. Semoga hal ini bisa terus didorong dan dikembangkan khususnya pada saat budidaya dan penanganan pasca panen”, ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Arifan Sasongko, SP.

Hal senada disampaikan Aan, “Kami siap mendukung rencana pengembangan bawang bombai di dalam negeri apalagi jika pemasarannya mudah dan harganya bisa dijamin stabil serta menguntungkan petani.”