Penanaman Perdana Varietas Padi Tahan Tungro Inpari 37 dari BALITTRO Sidrap Sulawesi Selatan


Created At : 2022-01-06 00:00:00 Oleh : DIAN RAHMAWATI, POPT Informasi Publik Dibaca : 1472

Wilayah kecamatan Mungkid adalah sentra tanaman padi. Padi ada terus sepanjang musim karena air tersedia cukup untuk melakukan budidaya teru menerus. Namun masalah lain akan timbul karena tanaman ada terus menyebabkan OPT cepat menyebar dan selalu eksis di pertanaman. Salah satu OPT utama pada padi adalah penyakit tungro yang disebabkan oleh wereng hijau. Wereng hijau merupakan pembawa virus tungro dan menularkan ke tanaman padi sehat.

Kecamatan Mungkid merupakan daerah endemis tungro, hampir di setiap desa terdapat gejala penyakit tungro, dengan intensitas rendah sampai tinggi. Langkah-langkah pengendalian telah dilakukan di antaranya pengendalian secara kimia untuk mengendalikan vektor virus tungro. Eradikasi tanaman yang terserang juga dilakukan untuk menghindari penularan. Namun jika serangan sudah cukup parah, kadang petani tidak mau melakukan eradikasi karena sayang tanamannya.

Menyikapi hal tersebut,melalui kerjasama Dinas Pertanian dan Pangan dengan Balai Penelitian Tungro, Sidrap Sulawesi Selatan melakukan demplot penanaman varietas padi tahan tungro. Padi yang ditanam merupakan hasil riset dari Balittro dan diuji cobakan ditanam di wilayah Magelang.

Setelah melakukan hasil survey, maka daerah dusun Blangkunan desa Pabelan Kecamatan Mungkid, menjadi pilihan untuk melakukan budidaya padi tahan tungro. Daerah ini dipilih karena memenuhi syarat untuk melakukan dem area seluas 5 ha. Intensitas serangan tungro di daerah ini sebenarnya tidak terlalu tinggi dibandingkan daerah lain. Namun dari tahun ke tahun ada gejala yang ditunjukkan oleh area tanaman padi. Intensitas serangan sekitar 1-3%.

Persiapan tanam dan sebagainya mulai dilakukan, diawali dengan menyemai padi, memindahkan padi ke lahan yang sudah diolah (dengan sistem jajar legowo), 4: 1, melakukan pemupukan dasar, penyemprotan padi dengan Paeni bacillus saat umur 10 hst, 21 hst dan 42 hst untuk mencegah penyakit kresek, pemupukan susulan, penyiangan gulma, pengairan berselang, pengubinan sebelum dipanen dan pemanenan. Umur Padi varietas inpari 37 adalah 112-113 hari.

Kegiatan tersebut dimonitor terus oleh petugas POPT kecamatan Mungkid dengan mengamati OPT yang menyerang. Gejala serangan OPT yang muncul adalah serangan penyakit kresek. Dalam petak yang berbeda dalam suatu hamparan, terdapat serangan kresek yang cukup tinggi, serangannya mencapai 10 % sehingga perlu dikendalikan dengan cara kimia.

Pada petak yang berbeda tersebut aplikasi P. bacillus mengalami keterlambatan, setelah mencapai umur 40 hst petani baru melakukan aplikasi, sehingga P. bacillus kurang efektif daya kerjanya. Selanjutnya dikendalikan dengan pestisida kimia berbahan aktif tembaga peroksida untuk menghambat pertumbuhan bakteri BLB. Mengamati petak lain yang penyemprotannya lebih dini, menunjukkan hasil yang berbeda, intensitas serangan kresek sangat kecil.

Bagaimana dengan serangan penyakit tungro?. Dari awal tanam sampai panen dapat dikatakan gejala penyakit tungro tidak ada. Namun demplot tersebut belum menyentuh berapa populasi vektor virus tungro wereng hijau. Sehingga hal itu menyebabkan gejala serangan penyakit tungro juga belum muncul.

Bisa dikatakan tanaman padi varietas Inpari 37 cocok ditanam di daerah Magelang bagian bawah, dengan tidak menunjukkan gejala terserang virus tungro. Pernyataan ini dikuatkan dengan seluruh wilayah Mungkid, yang posisi pada waktu itu ada tanaman padi, tidak ada laporan serangan virus tungro. Oleh karena itu kemungkinan karena serangan virus tungro pada umumnya sedang turun atau bahkan tidak berkembang, menyebabkan tanaman inpari 37 yang memang tahan tungro juga tidak terinfeksi virus tungro.

Gambar-Gambar Kegiatan Penanaman Varietas Tahan Tungro


 

 


                                                                                                                              (Dian POPT Magelang)

GALERI FOTO

Agenda

Tidak ada acara